Poker Hulk - Pesawat nirawak tempur AS, MQ-9 Reaper, sumber foto: wikipedia.org
Serangan presisi menggunakan drone atau pesawat nirawak canggih telah menjadi andalan militer Amerika Serikat sejak lama. Alutsista jenis ini biasa digunakan dalam operasi antiteror mereka.
Militer AS di Afghanistan juga sering mengandalkan armada drone tempur mereka untuk misi pengeboman presisi dan bahkan pengawasan. Terlepas dari akurasinya yang diakui, serangan pesawat tak berawak AS sering mengakibatkan korban sipil.
Hal itu terlihat dalam serangan pada Minggu (29/08), ketika sebuah pesawat tak berawak AS menghancurkan sebuah kendaraan di ibu kota Afghanistan, Kabul. Serangan itu menewaskan 10 warga sipil termasuk enam anak-anak.
Militer AS berargumen bahwa serangan itu merupakan "tanggapan defensif" terhadap ancaman serius seorang pembom bunuh diri dari ISIS-K terhadap Bandara Kabul. Tidak segera jelas apakah ada informasi yang salah oleh intelijen AS sebelum serangan itu.
Saat ini, Pentagon dilaporkan masih menyelidiki tragedi itu, tetapi menurut hasil awal penyelidikan, gempa susulan diyakini menjadi alasan mengapa ada korban sipil.
Berikut adalah beberapa informasi mengenai serangan pesawat tak berawak AS yang telah menewaskan banyak warga sipil dalam beberapa tahun terakhir.
Serangan 2 Januari 2018 menewaskan 10 warga sipil
Perang anti-teror Amerika Serikat telah menargetkan banyak kelompok teroris. Islamic State of Khorasan Province (ISIS-K) atau dikenal sebagai ISIS cabang Afghanistan masuk dalam daftar kelompok teroris yang menjadi musuh bebuyutan AS.
Meluncurkan Gandhara, militer AS melancarkan serangan drone terhadap situs pertahanan ISIS-K di Provinsi Jawzjan pada 2 Januari 2018. Pemboman itu menewaskan 10 warga sipil, termasuk lima wanita dewasa, empat pria, dan seorang anak.
Berdasarkan konfirmasi dari Kepolisian Provinsi Jawzjan, 26 pejuang dan komandan ISIS-K juga dilaporkan tewas dalam serangan itu.
Serangan 19 September 2019 menewaskan 30 warga sipil
Serangan drone AS masih berlanjut di Afghanistan dengan dalih yang sama, yaitu ISIS-K. Washington telah berulang kali diperingatkan oleh Amnesty International untuk menghindari korban sipil. Namun, terbukti bahwa mereka masih kesulitan mengantisipasi korban dalam serangan mereka.
Pada 19 September 2019, 30 petani kacang pinus di Provinsi Nangarhar tewas ketika pesawat tak berawak AS menyerang pertanian mereka setelah laporan simpatisan ISIS-K di daerah tersebut, Anadolu Agency melaporkan.
Tak hanya itu, 40 warga sipil lainnya juga terluka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sampai saat ini, pemerintah AS telah mengkonfirmasi serangan pesawat tak berawak mereka di Provinsi Nangarhar, tetapi menolak untuk mengakui adanya korban sipil dalam serangan itu.
Serangan 9 Januari 2020 menewaskan 60 warga sipil
Serangan udara paling mematikan yang pernah dilakukan oleh armada drone tempur AS adalah ketika mereka mencoba membunuh salah satu komandan Taliban, Mullah Nangyalay. Serangan itu mengakibatkan tanggung jawab besar bagi AS ketika misi tersebut menewaskan banyak warga sipil.
Al Jazeera melaporkan bahwa setidaknya 60 warga sipil tewas dan terluka ketika sebuah pesawat tak berawak AS menghantam sebuah situs di Provinsi Herat pada 9 Januari tahun lalu. Mullah Nangyalay dan para pejuangnya dilaporkan tewas di tempat.
Segera, sentimen anti-AS tumbuh pesat di Afghanistan, membuat kehadirannya di negara itu sangat tidak populer. Serangan rudal presisi yang diluncurkan oleh pesawat tak berawak AS di Afghanistan sejak 2015 telah menewaskan sekitar 300-909 warga sipil, 66-184 di antaranya anak-anak.

